Nyepi dan Lima Tradisi yang Hanya ada di Bali

Bali selalu menjadi sorotan dunia, apalagi pada peristiwa Hari Raya Nyepi yang baru saja berlangsung 18 Maret 2018.

Sejarah mencatat, Bali memiliki dunia kecil dengan kekayaan tradisi, adat, legenda, serta seni yang menjadi sebuah karya budaya istimewa.  Semua itu pun tak terluput dari keberadaan agama Hindu di pulau dewata. Seluruhnya saling terkait, mempengaruhi, dan membangun kebudayaan daerah Bali. Lantas, budaya apa saja yang ada di Pulau Bali? Paling tidak ada lima peristiwa budaya yang sering menjadi perhatian :

  1. Upacara Ngaben

Upacara Ngaben merupakan bagian dari ajaran agama Hindu. Tradisi ini bertujuan untuk menyucikan arwah orang meninggal.  Bentuknya berupa pembakaran jenazah yang diletakkan dalam sebuah wadah.

Sejumlah patung lembu dan naga dibakar saat prosesi kremasi Ritual Ngaben masal di Desa Batuan, Gianyar, Bali, 15 Juli 2016. Patung-patung ini dipercaya Umat Hindu sebagai kendaraan almarhum menuju nirwana atau surga.

Setelah menjadi abu, pihak keluarga melarungkan ke laut atau sungai sebagai tanda melepaskan jiwa agar bersatu dengan Sang Pencipta.

Ada lima bentuk upacara Ngaben, yaitu Ngaben Sawa Wedana, Ngaben Asti Wedana, Swasta, Ngelungah, dan Warak Krunon. Untuk prosesi kremasi jenazah yang masih utuh, pihak keluarga melakukan Ngaben Sawa Wedana. Jika pernah dikubuh sebelumnya, disebut Ngaben Sawa Wedana. Sementara itu, Swasta diterapkan kalau mayat tidak ditemukan. Khusus anak-anak dan bayi, diadakan upacara Ngelungah atau Warak Krunon.

  1. Gebug Ende Seraya

Sewaktu kecil dulu, pernahkah Anda dipukul menggunakan rotan? Pasti terasa sakit, bukan? Namun, bagi pelaku tradisi Gebug Ende Seraya, rasa itu harus diabaikan. Pasalnya, budaya ini mesti dilakoni supaya turun hujan.

Tradisi Gebuk

Biasanya, Gebug Ende Seraya diadakan pada musim kemarau di Desa Seraya. Masyarakat setempat memercayai bahwa tradisi tersebut mampu menghentikan kekeringan di kampong mereka. Apalagi, dilihat dari letak geografisnya, Desa Seraya tergolong kawasan tandus dan kering.

Gebug Ende dilakukan dengan cara mempertarungkan dua orang. Masing-masing membawa senjata berupa rotan dan sebuah pelindung. Uniknya, wasit tidak pernah mengumumkan pemenangnya ketika akhir acara.

  1. Ritual Pengerebongan

Ngerebong atau pengerebongan digelar setiap Minggu Pon pada Wuku Medangsia menurut kalender Bali. Tujuan tradisi ini agar manusia selalu menjaga keharmonisan hubungan dengan Tuhan, sesamanya, dan juga alam. Pelaku ritual adalah umat Hindu di Pura Pangrebongan. Wisatawan diperkenankan menonton acara tersebut asalkan mau menggunakan pakaian adat Bali. Sementara bagi wanita, harus dalam keadaan suci (tidak sedang menstruasi).

Acara dimulai dengan tabuhan musik tradisional, persembahan bunga, serta penjor-penjor. Selanjutnya, pelaku ritual melakukan sembahyang di pura. Kemudian, polisi adat mengamankan jalan agar para Mangku dan Bhatara keluar dari pura. Lalu, mereka mengelilingi wantilan (tempat adu ayam). Ritual ini dilakukan sebanyak tiga kali.

Biasanya, saat itu, beberapa Mangku dan Bhatara mengalami kerasukan makhluk halus. Mereka menjerit, kadang menangis, dan menari seiring alunan musik. Hal yang paling mengerikan ketika salah satu dari orang tersebut menebaskan pedang ke tubuhnya. Meski begitu tak satu bagian pun terluka atau berdarah.

  1. Tradisi Trunyan

Ada sebuah tradisi unik di Desa Trunyan, Bali, yang disebut Mepasah. Dalam Mepasah, jenazah tidak dikuburkan, melainkan dibiarkan terbaring di atas tanah. Uniknya, mayat tersebut hanya dibatasi pagar bambu sehingga bisa terlihat jelas.

Meski tempat tersebut penuh mayat, sama sekali tidak tercium aroma busuk. Pasalnya, di sana terdapat pohon taru menyan yang mampu menyerap bau. Usia pohon ini sudah ribuan tahun sehingga akarnya sangat kokoh.

Konon, sebelum tradisi Mepasah diterapkan, pohon taru menyan kerap mengeluarkan bau menyengat. Setelah warga meletakkan mayat di bawahnya, aroma tersebut tiba-tiba menghilang. Percaya atau tidak, jumlah jenazah yang ditaruh pun tidak boleh melebihi  11 orang, pernah menikah, serta proses kematiannya wajar.

  1. Tradisi Mekotek

Hindu dan adat Mekotek merupakan dua hal yang saling berkaitan. Tradisi tersebut diwariskan secara turun-temurun oleh leluhur penganut Hindu di Bali. Ritualnya diselenggarakan seusai Hari Raya Kuningan di Desa Munggu. Tujuan pelaksanaan tradisi ini adalah untuk menolak bala, menetralkan aura negatif, serta menyatukan umat.

Tradisi Mekotek

Ritual  yang hanya ada di Bali, ini dimulai dengan acara jalan kaki mengelilingi Desa Munggu. Masing-masing peserta membawa tongkat berbahan bambu. Setelah itu, mereka menyusun tongkat hingga membentuk piramida. Saat susunan tersebut tampak kuat, seseorang naik ke atasnya. Sementara itu, orang-orang yang memegang tongkat harus menahan agar susunan tidak runtuh.

 

Comments

author

Author: