LRT dan Euphoria masyarakat Sumsel

Light Rail Transit (LRT) atau kereta ringan listrik di Palembang yang diresmikan pengoperasiannya tanggal 23 Juli 2018, menjelang Asian Games yang dilangsungkan di Jakarta dan Palembang 18 Agustus 2018 disambut antusias dan kegembiraan yang meluap-luap atau lebih tepat disebut euphoria.

Saya sendiri mencoba naik LRT yang menghubungkan dua ujung titik masing-masing Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II dan Plaza Opi di Jakabaring.

Kegembiraan masyarakat Palembang ini, mungkin juga masyarakat Sumsel secara lebih luas ini tercermin dari ramainya masyarakat yang menganggap LRT ini sebagai sarana hiburan wisata yang cukup murah.

Dengan tiket hanya Rp 10 ribu sekali jalan, masyarakat beramai-ramai membeli tiket dan masuk ke kereta yang baru tersedia dalam tiga rangkaian/gerbong.

Sejumlah tokoh pun sudah naik LRT ini tak terkecuali Gubernur Sumsel terpilih Herman Deru 2018-2023 sebagaimana ditayangkan pada instagramnya.

Wajah sumringah penumpang LRT, pantas saja terpancar.  Angkutan massal dengan invetasi tinggi ini boleh dibilang murah.  Kita bisa bandingkan dengan naik kereta wahana permainan di TMII atau Ancol,  atau bahkan naik odong-odong dengan jarak tertentu kita rela merogoh uang Rp 30-Rp 50 ribu.

Jelas sekali, LRT yang sementara ini  baru berfungsi sebagai fasilitator untuk keperluan atlet dari Bandara ke Jakabaring menjadi daya tarik wisata bukan transportasi.  Untuk kebutuhan masyarakat Palembang, belum merupakan pilihan baik karena sesuatu yang baru, dan mungkin pula karena tempat tinggal dan tempat kerja yang tidak satu jalur dengan LRT ini.

Saya yang naik LRT berjarak 24,5 kilometer ini, memang cukup terkesan dengan pembangunan yang berlum pernah ada di Sumsel ini.  Paling tidak untuk posisi kereta yang berada di atas jalan raya/layang, ini merupakan kesan pertama.  Sebenarnya, dari hati kecil saya mengatakan, rakyat Sumsel tengah mengagumi pembangunan LRT.  Bukan menerimanya sebagai angkutan massal yang tengah menjadi trend di kota besar seperti Jabodetabek.

Nama Kurang Pas

Sayangnya, nama LRT ini kurang pas.  Disebutkan LRT Sumsel, padahal beroperasinya di dalam kota Palembang saja. Mungkin supaya semua masyarakat Sumsel ikut bangga.  Kereta juga berjalan relatif lambat, 45 menit dari Jakabaring sampai ke Bandara Sultan Mahmud Badaruddin II bukan 30 menit seperti standar yang diumumkan.  Pendingin udara, juga terasa kurang dingin, di samping rangkaian gerbong yang relatif sedikit, hanya tiga gerbong membuat penumpang menumpuk.

Kecepatan kereta juga sangat lambat, entah karena masih uji coba, atau memang kemampuan kereta buatan anak bangsa, sebagaimana disampaikan Menteri Perhubungan Budi Karyadi, di dalam tayangan televisi kereta ini.

Buka tutup pintu kereta di beberapa stasiun pemberhentian juga relative lama, lebih dari satu menit.  Bandingkan dengan KRL Jabodetabek atau Kereta Bandara yang punya batas waktu buka tutup pintu hanya 15 detik dan kecepatan kereta bisa maksimal sampai 80 km/jam.  Dari 13 stasiun, yang beroperasi baru 6 stasiun saja, bagaimana kalau seluruh stasiun sudah beroperasi?  Bisa jadi, naik kendaraan pribadi dibandingkan dengan LRT waktu tempuhnya tidak berbeda jauh.

Tapi terlepas dari itu semua, apakah LRT Palembang ini bermanfaat untuk kehidupan sehari-hari warga kota Palembang atau hanya menjadi kebanggan warga kota Palembang, saya mencatat, bahwa pembangunan di Sumatera Selatan ini masih menjadi barang mewah untuk warganya.

Sama halnya dengan jalan toll Palindra, Palembang Indrayala yang membuka akses dan sekaligus mengurai kemacetan jalan Indrayala – Palembang yang selama ini bisa memakan waktu satu sampai dua jam, kini hanya dalam waktu tempuh 15 menit.

Tak salah, bila di zaman shoot (jepret)  dan share saat ini, pembangunan menjadi bagian dari euphoria masyarkat.  Kendati, kita masih tertinggal dengan kereta cepat di Hong Kong, atau di Singapura, paling tidak LRT Palembang bukan LRT Sumsel  ini menjadi bagian dari kebahagiaan penduduk Palembang dan Sumsel umumnya.  Ini terbukti ketika mereka berselfie di dalam stasiun dan di dalam kereta LRT dengan wajah bahagia.  Bisa jadi, pembangunan LRT dari aspek ini telah berhasil membuat rakyat bahagia, asalkan kemacetan dan akurasi waktu tempuh perlu menjadi perhatian.

A. Edison Nainggolan

 

 

Comments

Rate this article!
author

Author: